Cover Buku
Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat mengunduh buku ini

Pengarang: Poppy Diah

Penerbit: Khazanah Intelektual

ISBN: 9789793838458

Ukuran File: 117 KB

Total Diunduh: 51 kali

ALLAH Menciptakan setiap manusia dalam bentuknya yang paling sempurna. Kalau pun ada di antara kita yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, semisal tunanetra, itu bukan alasan bagi kita untuk tidak berkarya secara optimal. Kisah-kisah dalam Melihat Dunia Tanpa Mata ini akan memberi gambaran betapa kekurangan fisik tidak menghalangi yang bersangkutan untuk bersyukur kepada Sang Maha Pencipta Kesempurnaan.

Kisah-kisah dalam buku yang diresensi oleh Suro Prapanca dan dimuat di Best-seller Books ini sebenarnya telah cukup lama dibuat oleh sang penulis yang juga seorang dokter yang telah menyelesaikan Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Namun, baru sekarang dapat diterbitkan dan berada di tangan pembaca.

Mungkin setiap orang pernah mendengar di antara mereka yang memiliki keterbatasan atau penyandang disabilitas (tunanetra adalah salah satunya). Penulis sendiri telah hampir 20 tahun berinteraksi dengan mereka. Diawali sebagai reader istilah bagi relawan yang membantu membacakan buku-buku untuk penyandang tunanetra. Sejak itulah, Poppy –yang sejak 2011 aktif di Yayasan Mata Hati Indonesia, sekarang menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Yayasan Mata Hati Indonesia (YMHI)– banyak mengenal mereka, mengamati bagaimana keseharian mereka, dan bagaimana mereka memecahkan masalah akibat keterbatasan yang mereka miliki.

Dari situ juga, penulis yang bernama lengkap dr Diah Puspitosari, SpKK ini menyampaikan bahwa ternyata masih banyak orang maupun institusi yang belum memberikan peluang bagi mereka, baik untuk mengakses kebutuhan fisik yang bisa mengakomodasi keterbatasan mereka, maupun kebutuhan yang lain.

Demikianlah, membaca 64 kisah dan pengalaman para penyandang disabilitas yang tertuang dalam buku setebal 160 halaman ini, seperti mengajak kita, hamba yang diberi Allah pancaindra yang lengkap, sudah semestinya untuk semakin bersyukur. Penulis seolah mengajak kita untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, pemerintah, maupun lembaga lain kepada para penyandang tunanetra (disabilitas) dan kebutuhannya. Sehingga, cita-cita untuk menginklusikan para penyandang disabilitas di tengah-tengah masyarakat dapat lebih cepat tercapai.

Buku ini menjadi setitik perbuatan mulia terhadap sesama, saat tindak kemanusiaan disadari saat ini semakin banyak orang membutuhkan perhatian, empati, pertolongan, dan kasih sayang.