Cover Buku
Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat mengunduh buku ini

Pengarang: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: -

Ukuran File: 247 KB

Total Diunduh: 4 kali

Dukuh Paruk menjadi tempat yang sangat memprihatinkan setelah sebelumnya terjadi bencana besar yaitu pembakaran rumah penduduk akibat kisruh 1965. Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban. Rumah dan harta benda semua habis terbakar, beruntung bagi Dukuh Paruk karena orang-orang sudah terbiasa menerima musibah, seperti tragedi tempe bongkrek yang banyak merenggut jiwa. Tetapi musibah kali ini sungguh di luar dugaan mereka. Mereka harus tinggal dan makan seadanya. Orang-orang dari luar desa pun tidak ada yang memberi bantuan.

Dukuh Paruk kini tanpa pemimpin dan tanpa Srintil, orang yang selama ini menjadi panutan di Dukuh Paruk harus dipenjara. Beberapa bulan kemudian Sakarya, Kertareja dan yang lainnya dibebaskan. Tetapi mereka pulang tanpa Srintil dan orang-orang dukuh paruk tidak ada yang menyakan kemana Srintil berada. Itu karena Srintil masih di tahan di tempat yang tidak Sakarya dn rombongan lainnya ketahui.

Dukuh Paruk yang miskin, didatangi seorang pemuda yang gagah berseragam. Semula semua orang takut dan enggan tersenyum meskipun yang datang itu dadalah Rasus. Orang-orang Dukuh Paruk ternyata masih trauma apabila ada orang berseragam datang. Tetapi yang membuat hati mereka tersenyum lagi adalah Rasus yang masih mau peduli dengan tempat kelahirannya. Rasus masih seperti yang dulu dan kedatangannya kali ini untuk menjenguk neneknya yang kritis. Tidak lama kemudian nenek Rasus meninggal dunia dan Rasus harus kembali menjalankan tugasnya. Sebelum pergi, Sakarya meminta bantuan Rasus untuk membebaskan Srintil.

Tidak lama kemudian, Srintil kembali pulang ke Dukuh Paruk. Srintil lemas tidak berdaya karena kelelahan karena ia pulang dengan berjalan kaki. Sejak kepulangannya, sikapnya berubah, ia lebih banya diam. Walaupun sudah keluar dari tahanan, Srintil masih tetap harus melapor ke tempat dimana ia ditahan. Srintil mulai bisa tersenyum ketika melihat Goder, anak Tampi. Srintil memutuskan untuk mengasuh Goder.
Cobaan kembali datang, ketika Srintil diajak oleh Marsusi untuk melapor ke Dawuan, tempat di mana Srintil pernah ditahan. Setelah pulang, Srintil ternyata diajak pergi ke suatu temapt oleh Marsusi. Untung bagi Srintil karena akibat kecerobohan Marsusi, Srintil jatuh dari motor sementara Marsusi terus melaju. Srintil yang penuh luka masih belum aman karena Marsusi kembali mencarinya dengan nafsu birahi yang menggebu, tetapi datang seseorang yang mau menolong, orang itu dari dusun yang masih satu kelurahan dengan Srintil.

Hati Srintil pun mulai bisa terbuka ketika melihat Bajus. Bajus adalah seorang pekerja proyek pembangunan irigasi. Srintil ternyata menaruh hati kepada lelaki itu, ia sangat berharap impiannya menjadi ibu rumah tangga dapat terwujud bersama Bajus. Srintil mengenal bajus sebgai pribadi yang baik, terlebih sikapnya terhadap Srintil.

Srintil yang yakin bahwa Bajus adalah orang yang akan merubah hidupnya harus kembali merasakan kekecewaan yang begitu dalam. Bajus ternyata malah menawarkan Srintil kepada bosnya. Bajus kini berubah menjadi beringas dan memarahi Srintil apabila ia menolak permintaan bosnya. Akibat tekanan batin yang mendalam, Srintil menjadi lupa ingatan.
Suatu ketika Rasus pulang dari menjalankan tugasnya. Namun hati Rasus sangat terkejut ketika mendapati Srintil lupa ingatan. Srintil pun di bawanya berobat ke dokter jiwa. Akhirnya Rasus mempunyai tekad yang besar dalam dirinya untuk membawa Dukuh paruk menjadi lebih baik.